Jayapura, 5 Oktober 2025 – Membangun generasi yang cerdas di era digital tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi, tetapi juga membutuhkan kesadaran untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab. Pesan inilah yang mengemuka dalam upacara bendera hari Senin di lapangan SMA Negeri 4 Jayapura, yang diikuti oleh seluruh peserta didik.

Upacara yang dimulai pukul 07.00 WIT tersebut menghadirkan Iptu Firmansyah, S.H., M.K.P., BA Subdit II Ditresiber Polda Papua, sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, beliau mengajak peserta didik untuk memahami pentingnya menjaga privasi data pribadi, mengenali berbagai modus kejahatan digital, serta menghindari tindakan yang melanggar hukum ketika beraktivitas di dunia maya.

Dalam penyampaiannya, Iptu Firmansyah mengingatkan bahwa tindakan yang melanggar hukum maupun etika di media sosial terkadang bermula dari aktivitas yang dianggap sekadar bercanda. Candaan antarteman yang tidak disertai kesadaran akan batasan dapat menimbulkan kerugian, melukai perasaan orang lain, bahkan memunculkan persoalan yang lebih serius.

Karena itu, peserta didik diajak untuk memahami bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital tetap harus disertai tanggung jawab. Sebelum mengunggah komentar, mengirim pesan, atau membagikan suatu konten, setiap orang perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Jari-jari yang bergerak di layar dapat membawa dampak nyata dalam kehidupan. Oleh sebab itu, kemampuan menahan diri, menghormati privasi, dan menjaga etika komunikasi menjadi bagian penting dari literasi digital yang perlu dibangun sejak bangku sekolah.

Selain mengingatkan tentang risiko aktivitas digital, Iptu Firmansyah juga mendorong peserta didik untuk menjadi pengguna media sosial yang aktif menyebarkan hal-hal positif. Konten yang tidak bermanfaat, berpotensi merugikan orang lain, atau belum jelas kebenarannya sebaiknya tidak langsung dibagikan.

Peserta didik juga perlu lebih berhati-hati dalam menjaga informasi pribadi dan mengenali berbagai bentuk penipuan maupun kejahatan di dunia digital. Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar, berbagi inspirasi, memperluas wawasan, dan membangun hubungan yang sehat.

Penyampaian materi yang disertai berbagai studi kasus yang terjadi di sekitar Jayapura dan Papua membuat peserta didik memperoleh gambaran lebih nyata mengenai persoalan digital. Berbagai contoh tersebut membantu mereka memahami bahwa risiko di dunia maya bukan sekadar persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sesuatu yang perlu diantisipasi melalui sikap bijak dan kewaspadaan.

Peserta didik mengikuti penyampaian materi dengan antusias. Pembahasan berbasis kasus menjadi kesempatan untuk merefleksikan kebiasaan bermedia sosial serta memahami pentingnya mengambil keputusan secara bertanggung jawab di ruang digital.

Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 4 Jayapura terus mendorong penguatan karakter peserta didik, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kecakapan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menghormati sesama, menjaga keamanan diri, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Sekolah berharap pesan yang disampaikan dalam upacara ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun ketika peserta didik berinteraksi di media sosial.

Pada akhirnya, menjadi generasi digital yang cerdas bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mengakses informasi, melainkan juga tentang seberapa bijak ia mengolah dan membagikannya. SMA Negeri 4 Jayapura berharap seluruh peserta didik tumbuh menjadi generasi yang kritis, berkarakter, serta mampu menggunakan media sosial secara aman, positif, dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *