Jayapura, 27 Agustus 2026 – Tata tertib sekolah bukan sekadar kumpulan aturan yang harus dipatuhi. Ia menjadi salah satu instrumen pendidikan untuk membantu peserta didik memahami batas, tanggung jawab, serta konsekuensi dari setiap pilihan. Semangat inilah yang menjadi pembahasan dalam Komunitas Belajar (Kombel) TIFA SMA Negeri 4 Jayapura, Kamis (27/8/2026).

Bertempat di Aula SMA Negeri 4 Jayapura, kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIT tersebut diikuti oleh Kepala Sekolah, para wakil kepala sekolah, kepala bagian, guru, dan tenaga kependidikan. Pematerian disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Krisologus Jeuyanan, S.Ag., M.Si.

Kombel TIFA diawali dengan doa bersama sebelum memasuki pembahasan utama. Dalam pemaparannya, Krisologus menyampaikan bahwa buku tata tertib yang telah diterbitkan pada tahun sebelumnya perlu ditinjau kembali. Perubahan tersebut diperlukan karena dinamika perilaku peserta didik terus berkembang, sehingga aturan sekolah juga perlu tetap relevan dengan kondisi nyata yang dihadapi sekolah.

Pembahasan kemudian bergerak dari sekadar melihat aturan menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana tata tertib dapat menjadi bagian dari proses mendidik? Para peserta berdiskusi dan memberikan masukan terhadap buku saku tata tertib yang telah tersedia.

Melalui diskusi tersebut, sekolah berupaya merumuskan tata tertib yang dapat menjadi acuan bersama, tegas dalam memberikan batas, tetapi tetap adil, proporsional, dan memiliki nilai pendidikan. Dengan demikian, disiplin tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga sebagai proses membentuk peserta didik agar mampu bertanggung jawab atas tindakan dan pilihannya.

Suasana Kombel TIFA kemudian beralih menjadi lebih hangat ketika memasuki sesi perayaan ulang tahun guru dan tenaga kependidikan yang lahir pada bulan Agustus. Para guru dan tenaga kependidikan yang berulang tahun bersama-sama maju ke depan, meniup lilin, dan menerima ucapan selamat dari keluarga besar SMA Negeri 4 Jayapura.

Sesi tersebut semakin bermakna ketika beberapa guru dan tenaga kependidikan, khususnya mereka yang baru bergabung, diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Tawa, ucapan syukur, dan keakraban menjadi penutup yang menyenangkan setelah sebelumnya seluruh peserta serius membicarakan tata tertib sekolah.

Kombel TIFA pun berakhir dengan baik. Dari pembahasan tentang disiplin hingga perayaan sederhana penuh sukacita, pertemuan ini kembali menunjukkan bahwa membangun sekolah bukan hanya tentang menyusun aturan, tetapi juga tentang membangun manusia melalui aturan yang adil, hubungan yang sehat, dan keteladanan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *